07.00 WIB s.d. 20.00 WIB (toko di rumah)
081286930814
081286930814
085885774023/ 081286930814/ 081384039065

ahmad.sodikin@gmail.com
( pcs)
GambarBarangjmlBeratTotal
keranjang belanja anda kosong
00,00Rp 0
Menu

Hati hati kanker payudara

Friday, February 2nd 2018.

SEBANYAK 70% penderita kanker payudara di Indonesia baru terdeteksi pada stadium lanjut, stadium tiga dan empat. Padahal, semakin lanjut stadium kanker, peluang keberhasilan pengobatan semakin mengecil. Kaum perempuan pun diimbau untuk melakukan upaya deteksi dini.

“Berdasarkan data 5 year survival rate (rata-rata kesintasan selama 5 tahun pascapengobatan), jika pengobatan dilakukan pada stadium satu angkanya 95%-100%. Pada stadium dua turun jadi 90%, stadium tiga 60%-70%, dan stadium empat tinggal 10%,” terang dokter spesialis bedah konsultan bedah onkologi, M Yadi Permana, pada diskusi bersama media di Jakarta, Senin (29/1).

Karena itu, lanjut dokter dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI)-Pondok Indah, Jakarta itu, upaya deteksi dini menjadi sangat penting. Upaya deteksi dini diawali dengan rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau yang lebih dikenal dengan istilah sadari.

Sadari dianjurkan rutin dilakukan pada hari ketujuh setelah selesai haid dengan cara meraba seluruh bagian payudara dengan saksama hingga ke bagian ketiak untuk menemukan adanya benjolan, penebalan, cekungan, maupun luka pada payudara termasuk puting serta ketiak.

“Perlu dipahami, mayoritas benjolan penanda kanker payudara justru tidak menimbulkan nyeri,” kata Yadi mengingatkan.

Metode sadari, lanjut Yadi, relatif mudah dilakukan. Namun, pada kasus tertentu seperti pada payudara yang berukuran besar, benjolan yang terletak di bagian dalam mungkin tidak teraba. Akibatnya, sering kali lolos tidak terdeteksi. Pun demikian jika perabaan kurang saksama.

Karena itu, Yadi menegaskan, penting untuk juga melakukan pemeriksaan payudara secara klinis (sadanis) dengan pergi ke dokter. Bisa ke dokter umum, atau akan lebih baik lagi jika ke dokter bedah onkologi. “Dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap payudara, juga menggali lebih jauh kondisi pasien melalui anamnesis (dialog/tanya jawab).”

Bila dokter menemukan adanya kelainan yang dicurigai mengarah pada kanker payudara, upaya deteksi dini dilanjutkan dengan pemeriksaan radiologi, seperti pemeriksaan mamografi dan USG payudara.

Jika hasilnya semakin meningkatkan kecurigaan, dilakukan biopsi atau pengambilan sampel jaringan yang dicurigai sebagai kanker payudara dengan jarum khusus untuk kemudian diperiksa di laboratorium. Langkah itu untuk memastikan bahwa sel-sel tersebut memang kanker.

“Anggapan bahwa biopsi memperparah penyebaran kanker salah besar. Anggapan itu muncul akibat pasien-pasien yang terdiagnosis kanker setelah biopsi tidak melanjutkan dengan pengobatan yang benar. Kanker pun bertambah parah dan terus menyebar. Timbul kesan penyebaran itu gara-gara biopsi, padahal karena tidak diterapi,” terang Yadi.

Yadi menjelaskan, persentase keberhasilan pemeriksaan deteksi dini itu tergolong tinggi. Sadanis oleh dokter, misalnya dapat mendeteksi sampai 85% kasus kanker payudara. Pemeriksaan mamografi dapat mendeteksi sampai 90%. Adapun biopsi sampai 91%.

“Bila ketiga pemeriksaan ini dilakukan semua, kanker payudara dapat dideteksi dini hingga 95,5%,” kata Yadi.

Operasi pertimbangkan estetika
Terapi kanker payudara yang utama ialah operasi untuk membuang jaringan kan­ker. Yang jadi soal, pasien kerap kali enggan menjalani operasi karena beranggapan akan kehilangan payudara yang menjadi bagian dari identitas perempuan.

Namun, menurut Yadi, kaum perempuan tidak perlu risau karena operasi kanker payudara juga bisa dilakukan dengan tetap mempertahankan fungsi payudara untuk menyusui, serta mempertimbangkan faktor estetika. ia mencontohkan operasi jenis breast conserving surgery (BCS). Pada operasi itu, yang diangkat hanya jaringan kanker. Dengan syarat, batas sayatan yang ditinggalkan bebas kanker. Dengan langkah ini, fungsi menyusui tidak terganggu. “Umumnya BCS dilakukan jika kankernya ditemukan pada stadium awal.”

Andaipun kanker ditemukan pada stadium tiga yang mengharuskan operasi pengangkatan seluruh jaringan payudara, jelas Yadi, bisa ditempuh metode onkoplasti atau rekonstruksi payudara.

“Operasi ini bertujuan mengisi rongga yang ditinggalkan dan membentuk kembali payudara dengan implan silikon maupun dengan jaringan otot yang diambil dari bagian tubuh lain. Meski payudara tidak bisa digunakan untuk menyusui, ini membantu perempuan dari sisi estetika.”

Selain operasi, terapi lainnya, yakni kemoterapi dan radioterapi dilakukan menyesuaikan konsisi tiap pasien. “Tidak semua pasien kanker payudara harus dikemoterapi atau diradiasi.”

Bagaimana dengan terapi alternatif seperti obat herbal dan alat yang disebut jaket Warsito? Yadi tidak menganjurkan pasien menempuh terapi itu. “Karena belum terjamin keamanan dan efektivitasnya

Rp (Hubungi CS)
Rp (Hubungi CS)
Rp (Hubungi CS)
Rp (Hubungi CS)
Rp (Hubungi CS)
Rp (Hubungi CS)

Hubungi Kami

081286930814
081286930814
085885774023/ 081286930814/ 081384039065
ahmad.sodikin@gmail.com

Kategori

Copyright © 2015 Jual Obat Herbal Murah, Jakarta, Bintaro, Ciledug, Tangerang